- Back to Home »
- Cerpen »
- Cerpen - Arah Jam Satu
Posted by : Unknown
Friday, November 22, 2013
3 Minggu sudah aku berada di pertempuran ini, semakin sedikit waktuku untuk bersantai, semakin sedikit pula anggota kompiku yang masih bertahan. Dari 97 serdadu yang berangkat, kini tersisa 79 serdadu yang masih bugar. Sementara 6 lainnya luka-luka dan sakit. Itu artinya, 12 serdadu gugur dalam tugas.
Entah mengapa, semangat kami tidak seperti saat pertama kali kami tiba di pulau ini. Saat itu, begitu kapal pengangkut mendarat, kami langsung berteriak "HAJAR MEREKA!!!" sambil berlari-lari kecil memasuki lebatnya pepohonan tanpa memikirkan kematian. Seperti ada yang memomppa dari dalam. Tapi sekarang begitu berbeda. Begitu mendengar pekikan senjata, ada saja prajurit yang menjerit ketakutan minta pulang. Yah... perang telah membuat mereka trauma dan frustasi. Tapi meski begitu, prajurit yang masih membara semangatnya pun masih banyak.
Hari ini, komandan kompi memerintahkan kompi dibagi menjadi 3 peleton. Aku bergabung di peleton 2 yang dipimpin Letda. Hasan. Beberapa teman dekatku pun berada di kompi ini. Sertu. Andi, Serda. Marsel, Serda. Alif, Kopka. Mario, Kopda. Vicky, dan Kopda. Indra, mereka semua teman-teman terdekatku semenjak di kamp pelatihan. Kami semua diperintahkan untuk patroli bersenjata ke arah yang sudah ditentukan. Kompiku diperintahkan untuk bergerak ke arah jam satu dari titik pemberangkatan.
Setengah jam setelah perjalanan, kami menemui kendala. Pratu. Azriel, tiba-tiba saja pingsan. Komandan peleton memerintahkan dua orang untuk menolongnya, tetapi ternyata dia tidak bisa melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan tiga orang itu. Perjalanan dilanjutkan. Semakin kami masuk ke dalam hutan, kami merasa semakin diawasi.
Tiba-tiba kami mendengar pekikan senjata api dan suara raungan mesin kurang lebih 300 meter di depan kami. Kami semua langsung tiarap. Letda. Hasan memerintahkan 6 orang untuk memerikasa ada apa di sana, termasuk dua teman terbaikku, Kopda. Vicky dan Kopda. Merekapun segera berangkat.
Setelah 15 menit menunggu dan tidak ada tanda-tanda mereka kembali, sementara suara keributan tampak sudah berhenti. Kami semua cemas dengan keadaan teman-teman kami. Letda. Hasan pun memerintahkan kami semua untuk menyusul mereka. Belum sempat kami berjalan, kami mendengar suara langkah kaki. Ya... itu suara langkah kaki seseorang. Semakin lama seakin jelas dan aku bisa mengetahui bahwa itu langkah orang pincang yang setengah berlari. Komandan memerintahkan semua untuk bersiap menembak. Dan langkah kaki itu benar-benar sudah sangat dekat... dan ternyata dia...
"KOPDA VICKY!!" Teriak seluruh anggota kompi tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Kopral Dua Vicky datang sendiri dengan kaki kanan tertembak dan badannya yang penuh luka bakar.
" Kopral Vicky! Kenapa kau? Mana yang lain? " Tanya Letda. Hasan.
" Mereka... mereka ada disini... mereka mendakati kita... " Jawab dia.
" Mana yang lain, Kopral? "
" Mereka semua... mereka... mereka sudah mati... kalian harus lari... "
" Ada apa? apa yang terjadi?"
Tiba-tiba saja, sebuah peluru menembus dada Kopda. Vicky. Dia tersungkur dan, MATI! Sahabtku mati di depan mataku sendiri. Dan entah darimana datangnya, sebuah kendaraan berlapis baja tiba-tiba muncul sambil meraung-raung melindas tubuh Kopda. Vicky.
Letda. Hasan memerintahkan seluruh serdadu untuk mundur. Sementara tank tersebut terus memuntahkan peluru-pelurunya. Aku berlari entah kemana, aku hanya mengikuti kemana tubuh ini membawaku. Hanya satu yang ada di pikiranku, HIDUP! BERTAHAN HIDUP!
Dan kemudian, aku teringat keluargaku Aku teringat adikku di rumah yang sedang belajar, Aku teringat ayahku di rumah yang sedang membaca koran, Aku teringat ibuku yang sedang memasak. Ya... terlihat jelas di bayanganku. Mereka semua hidup dalam kedamaian. Kemudian kulihat mereka semua melambai ke arahku sambil tersenyum. Dan semua itu tiba-tiba hilang begitu saja. Aku kembali ke hutan pertempuran ini. Sendiri!
Lalu aku mendengar suara raungan mesin. TANK ITU! Ternyata dia masih di belakangku! Tapi entah mengapa sendi-sendi tubuhku terasa terkunci. Aku tidak bisa bergerak. Diam terpaku. Dan tank itu sudah di depanku. Kulihat mulut tank mengarah ke tubuhku yang kaku ini. Dan tiba-tiba, kulihat seluruh hutan ini berubah menjadi putih bersinar. Dan sinar putih ini mengelilingi seluruh tubuhku. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas sinar ini membakarku. Aku merasakan tubuhku hancur berkeping-keping dan dalam sekejap sinar itu menghilang berganti kepulan asap hitam.
Tank itu pun pergi meninggalkanku. Aku tak tahu kenapa, padahal jelas-jelas aku masih berdiri di sini. Mungkin si pengendali tank merasa kasihan padaku sehingga dia berbaik hati untuk meninggalkanku hidup-hidup. Ketika aku hendak melangkahkan kakiku ini, kulihat sepotong tangan terjatuh. Dan aku tidak asing dengan tangan itu. Ya! aku sangat mengenal tangan itu! Itu tanganku! Dan aku baru menyadari bahwa tank tadi telah menghancurkan tubuhku! AKU SUDAH MATI!
(Karya : M.Rohmanur Rizqi)
Post a Comment